AIDC BLOG: 2008-12-07

Tuesday, December 9, 2008

Bagaimana operasi The Asia Fondation menaja organisasi Islam Liberal di Indonesia ?

Penggerak pluralisme Indonesia : Dari kiri, Bambang Harymurti, (Editor in Chief Mingguan Tempo Newsmagazine & wakil majalah TIME); Wimar Witoelar (pengamal media & jurucakap Gus Dur semasa jadi Presiden Indoensia) ; Yenny Wahid, (anak Gus Dur/Pengarah Wahid Institute); Paul Wolfowitz (Bekas Presiden Bank Dunia); Mari Pangestu (bekas Pengarah eksekutif Center for Strategic and International Studies - CSIS); Prof Dr M. Din Samsudin (Pengerusi Muhammadiyyah); Erry Riyana, (Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi-KPK); Abdul Aziz (Pusat Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama); Jusuf Wanandi (Pengarah Eksekutif Pusat Islam dan Pluralisma Antarabangsa Indonesia.

Bagaimana operasi The Asia Fondation menaja organisasi Islam Liberal di Indonesia ?


Dengan dana The Asia Fondation, Islam Liberal berjaya menyusup masuk ke dalam orgnisasi masyarakat Islam seperti Nahdatul Ulama (NU), Muhammadiyyah, Hidayatullah, Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar, dan sebagainya.

Selain menyusup masuk, mereka juga membentuk organisasi seperti JIL (Jaringan Islam Liberal) dan Paramadina. Dengan cara ini mereka merosak Islam dari dalam dengan faham pluralisme, tafsir tematik/ hermeunetika (mentafsirkan al Qur’an dengan pola pikir sekular), kesamarataan gender, filsafat serta aliran sufi yang bertentangan dengan Islam.

Musuh Islam berlabel Islam inilah mendaftar organisasi beserta dengan nama tokoh dan alamatnya yang sentiasa meminta bantuan dana (istilah Ulil Abshar Abdalla, Koordinator JIL: memohon proposal dana, dalam bahasa manis digunakan ungkapan partner dalam kerjasama) kepada The Asia Foundation kerana kecemburuan terhadap kaum Muslimin terhadap ajaran Islam yang agung.

Serangan propaganda kekafiran, kemaksiatan bahkan memperlecehkan Islam mengalir deras tanpa dapat dibendung. Secara historis, memanglah wajar, mengingatkan per­se­teruan antara haq dan batil memang tidak pernah berakhir, hingga akhir zaman.

Namun, yang amat menggelisahkan adalah banyak kalangan Muslim yang masih setia menjadi penonton dari pertun­jukan kafir di depan matanya. Tidak sedikit pula kaum Muslimin yang secara tegas membantu menghina dan memperlecehkan ajaran Islam di hadapan orang-orang kafir!

Hinaan dan perlecehan itu kadangkala diaplikasikan dalam bentuk tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti melakukan kekafiran, terkadang juga berupa ucapan yang secara sedar atau tidak sedar terhadap Islam!

Yang paling parah lagi, apabila perkara itu dilakukan oleh orang yang memakai label Islam. Salah satunya adalah "majalah Syir’ah" yang dibiaya oleh The Asia Foundation (TAF).


Mendengar nama TAF, tentu sudah tidak hairan lagi di telinga kita, pastinya NGO yang ditaja itu bersenyawa dengan kelompok Liberalis yang bertopeng Islam. Sebab itu, hampir semua NGO yang ditaja oleh TAF, produknya sama, iaitu menggigit akidah Islam.

Kekacauan yang terbesar adalah penyebaran racun-racun pluralisme, liberalisme dan inklusivisme yang dipelopori oleh JIL dengan Komunitas Utan Kayunya, Paramadina dengan Fiqih Lintas Agamanya dan Musdah Mulia dengan Kompilasi Hukum Islamnya.

"Majalah Syir’ah", namanya sangat bagus, bererti jalan yang terang, diambil dari Al-Qur`an surat Al-Ma`idah 48: Wa likullin ja’alna minkum syir’atan wa minhajan terjemah Indonesia: Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.

Motonya pun cukup bagus, Mengurai Fakta Menenggang (bertoleransi) Beda: Berangkat dari kesadaran akan perbedaan. Perbedaan sebagai ciptaan Allah yang abadi.

Bukan untuk berbeza pendapat, melainkan untuk berlumba-lumba untuk membuat kebajikan. Tetapi akhlaknya buruk tidak seindah moto­nya. Misinya kotor tak seterang nama­nya. Setiap edisi yang diterbitkan setiap bulan, selalunya ada racun yang ditebarkan kepada pembaca di negara Muslim terbesar di dunia ini. Topik racunnya pun berulang-ulang, yakni mencitranegatifkan umat Islam, mencitrapositifkan Yahudi dan Nasrani, serta menghalalkan pemurtadan umat Islam. Ternyata Syir’ah tidak menghurai fakta bertoleransi perbezaan, tetapi menghurai fitnah bertoleransi pemurtadan.

Inilah NGO berdaftar beserta dengan nama tokoh dan alamatnya yang mendapat tajaan daripada The Asia Foundation:

1. Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Ulil Abshar Abdalla dan Nong Mahmada, Jl. Utan Kayu 68-H Jakarta Timur.

2. Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Dr Djohan Effendi dan Ulil Abshar Abdalla, Jl. Percetakan Negara No. C-553, Jakarta Pusat.

3. Paramadina (Serangan Pluralisme Agama/Menyamakan Semua Agama), Kautsar Azhari Noer, Jl TB Simatupang Pondok Indah Plaza III F5/7 Jakarta.

4. Majalah Syir’ah, Alamsyah M Dja’far, Jl Asembaris Raya M Kavling 8 Kebon Baru Tebet, Jakarta Selatan.

5. Lembaga Buruh, Tani dan Nelayan (LBTN), PP Muhammadiyah, Moeslim Abdurrahman, Jl. Menteng Raya 62 Jakarta Pusat.

6. Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP), Pramono U Tantowi dan Rizal, PP Muhammadiyah, Jl. Menteng Raya 62 Jakarta Pusat.

7. Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), Munawar, Hendrik dan Denden (Retas), Kantor PP Muhammadiyah, Jl. Menteng Raya 62 Jakarta Pusat.

8. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3-UMY), Said Tuhuleley, Budi dan Asykuri Chamim, Gedung AR Fachruddin Kampus UMY, Jl. Lingkar Selatan Tamantirto Kasihan, Yogyakarta.

9. Lembaga Penelitian Universitas Muham­madiyah Surakarta (UMS), Gustin, Jl. A Yani, Pabelan, Surakarta, Jawa Tengah.

10. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Aceh, Afdhal Jihad, Jl KH A Dahlan, Banda Aceh.

11. Pemuda Muhammadiyah (PM) Aceh, A Malik Musa, Jl. KHA Dahlan, Banda Aceh.

12. Fatayat Nahdatul Ulama (NU), Dra Maria Ulfah Anshor, Marhamah dan Iin, Gedung PBNU Jl Kramat Raya 164 Jakarta Pusat.

13. Lakpesdam NU, Masykur Maskub, Imdadun Rahmat dan Taswan, Jl. H. Ramli No 29A Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan.

14. Puan Amal Hayati (Urusan Gender), Sinta Nuriya (isteri Gus Dur), Jl. Warung Silah No. 30 RT 02/05 Kompleks Masjid Al-Munawwarah, Ciganjur, Jakarta.

15. Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Masdar F Mas’udi, Jl. Cililitan Kecil III/12, Kramat Jati, Jakarta Timur.

16. Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Yogyakarta, Najib, Tompeyan TR III/133 Yogyakarta.

17. Pusat Studi Antar Komunitas (PUSAKA) Padang, Sudarto, Jl Purus I No. 8A Padang, Sumatera Barat.

18. Gender Team for Ministry of Religious Affairs (GT-MORA), Dra Siti Musdah Mulia, Departemen Agama RI, Jl. Lapangan Banteng No 4-6 Jakarta Pusat.

19. Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ), Dra Siti Musdah Mulia, Jl Matraman Masjid I.A Jakarta Selatan.

20. Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Dr Masykuri Abdillah dan Hakim Jamil, Jl Ir H Juanda 95 Ciputat.

21. Pusat Studi Wanita (PSW) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Rosatria, Jl Ir H Juanda 95 Ciputat.

22. Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah (urusan gender), Dr Amsal Bachtiar, Jl Ir H Juanda 95 Ciputat.

23. Desantara, Drs Bisri Effendi, Jl. Raya Citayam 35 Depok.

24. DPP Korps Perempuan Majelis Dakwah Islam (MDI) (Bidang Garapan tentang Gender), Hj Juniwati T Maschjun Sofwan dan Nilmayetti, Jl Anggrek Nelly Murni 11A, Slipi Jakarta Barat.

25. Indonesian Center for Islam and Pluralism (ICIP), Syafii Anwar dan Syafiq Hasyim, Jl Hang Lekiu I No. 09 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

26. Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin, Nurcholish Madjid, Jl Gatot Subroto IV/Kemiri NO 102 Banjarmasin Kalsel.

27. Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LkiS), Amiruddin, M JadulMaula, Fikri dan Luth, Sorowajan Baru, Jl Pura No 1 Yogyakarta.

28. Lembaga Kajian Pengembangan Masyarakat dan Pesantren (LKPMP) Makassar, Azhar Arsyad, Jl Faisal Raya No 22 Blok 22B Makassar.

29. Lembaga Studi Aksi untuk Demokrasi (LS-ADI), Anick, Jl Ir H Juanda Gg Swadaya Rt 01/08 Pisangan, Ciputat.

30. Rahima (Urusan Gender), Syafiq Hasyim, Jl Pancoran Timur IIA No 10 Pasar Minggu Jakarta Selatan, dan masih banyak lagi.

(Sumber: Jejak Tokoh Islam dalam Kristenisasi, Hartono Ahmad Jaiz, Darul Falah Jakarta, Cet. I, Julai 2004, hlm.158-164).


AIDC menterjemah artikel umar-ikhwan.blog.friendster.com. Artikel asal klik di sini


Sila klik untuk baca selanjutnya...

Anwar Ibrahim disanjung oleh Majlis Gereja



Anwar Ibrahim disanjung oleh Majlis Gereja


Oleh : AIDC

"Pilihan raya ke-12 itu telah melemahkan Islamisasi di Malaysia, kata Peter Riddell"
sebagai pembuka ayat dalam Church Times, yang ditulis pada 14 March, 2008.

Peter Riddell atau nama sebenar Dr Peter G. Riddell, adalah Profesor dan Dekan di Pusat Kajian Islam & Kepercayaan-kepercayaan Lain di Kolej Kitab Bible Victoria, di Australia.

Kata-kata pembuka bicara profesor Kristian itu ditulis dalam artikel bertajuk "Satu titik perubahan untuk Malaysia " (A watershed for Malaysia) sebagai mengulas kemenangan Pakatan Rakyat (PR) yang diketuai oleh Anwar Ibrahim dalam PRU 12 Mac lalu.

Dakwa Peter Riddell; Kemenangan itu didorong oleh rasa tidak puas hati rakyat Malaysia yang berbilang agama dengan dasar kerajaan. Minoriti agama lain, yang mempunyai 40 peratus undi telah menyuarakan protes. Komuniti Kristian, yang menyumbang sembilan peratus undi telah dilayan secara tidak adil dengan dakwaan kerajaan Malaysia adalah sebuah negara Islam.

Tulis Peter Riddell lagi; Pihak berkuasa Islam di Malaysia telah mengharamkan penggunaan perkataan “Allah" untuk penganut Kristian dalam sembahyang dan penerbitan-penerbitan mereka. Masyarakat Kristian di Malaysia berhujah perkataan "God" itu merujuk kepada "Allah" jika diterjemah Kitab Bible ke Bahasa Melayu.

Dakwa penulis itu lagi, dasar-dasar ketidakadilan kerajaan dalam pembahagian ekonomi menyebabkan penganut agama Hindu dan Buddha di Malaysia telah bersama-sama menyuarakan bantahan. Akibat perobohan kuil-kuil, beribu-ribu penganut Hindu telah berdemonstrasi di jalan-jalan ibu kota pada November lalu.

Penulis itu merumuskan kejayaan besar PR di Malaysia kerana faktor Anwar Ibrahim yang memiliki karisma tinggi. Anwar Ibrahim yang membawa imej Islam Moderat dalam partinya (PKR) telah berjaya menyatukan pembangkang dan dalam masa sama PKR menumpukan sepenuh perhatian kepada pengundi bukan Islam.

Hasilnya PKR berjaya menghantar 31 wakil di parlimen dan menjadi rakan kongsi senior dalam kerajaan campuran di tiga negeri yang dimenangi oleh PR.

Tulisnya lagi, Golongan bukan Islam sangat gembira dengan keputusan itu berasaskan beberapa faktor. Pertama, tiada lagi dominasi Islam kerana PAS juga termasuk dalam PR yang bersedia menggugurkan konsep "Negara Islam" diganti dengan "Negara Kebajikan". Kedua, tiada lagi perlumbaan menjadi jaguh agama dalam PR tetapi diganti dengan sifat pluralist dan Islam-friendly kerana diketuai oleh PKR yang bercakap kepelbagaian etnik dan persamaan pelbagai agama.

Anwar Ibrahim pula berkata; “Orang ramai telah mengundi dengan tegas untuk satu era baru di Malaysia, di mana kerajaan mesti benar-benar menyeluruh, dan mengiktiraf semua rakyat Malaysia, tanpa mengira bangsa, budaya atau agama, kerana mereka adalah sebuah negara bangsa Malaysia."

Menyentuh mengenai PAS, profesor Kristian itu menulis seperti berikut; Golongan lama PAS, yang diwakili oleh Mursyidul Am, Haji Nik Abdul Aziz Nik Mat, telah dipaksa menyebut dalam syarat-syarat serupa dan mengisytiharkan: “Kita akan menghampiri kemenangan daripada satu sudut pandangan Islam, dan ini bermaksud semua orang adalah sama rata. Semua adalah bersaudara. Sepatutnya tiada lagi pembahagian rakyat berasakan perkauman."

Membaca lanjut tulisan Peter Riddell, klik di sini


Mengapa Anwar terkenal dalam masyarakat Kristian ?

Nama Anwar Ibrahim bukanlah asing kepada Dr Peter G. Riddell, Profesor di Pusat Kajian Islam Kolej Kitab Bible Victoria, Australia itu kerana sebelum ini, pada tahun 2006, Anwar pernah menghadiri dailog antara agama anjuran Majlis Gereja-gereja Victorian, di Australia.

Rev Dr Duncan Reid dari Majlis Gereja-gereja Victorian menulis laporan mengenai ucapan Anwar dalam majlis itu.

Anwar Ibrahim bersama Rev Dr Duncan Reid dari the Victorian Council of Churches (Majlis Gereja-gereja Victorian), Mr Malcolm Thomas, Presiden the Islamic Council of Victoria, Professor Camilleri, dan Dr Michális Michael,dari Centre for Dialogue Research Fellow. Sumber foto klik di sini.


Tulisnya, Anwar memberitahu, sepanjang tempohnya, 6 tahun di penjara, beliau bukan hanya menghafal surah-surah dalam al_Quran, tetapi juga membaca kitab Shakespere sebanyak empat kali setengah, “dan jika Perdana Menteri membenarkan saya tinggal dipenjara untuk tempoh 6 bulan lagi, jumlah tersebut akan menjadi lima kali”.

Dakwa Anwar, "Mengapa tidak kita sebagai Muslim, Kristian, Hindu dan Buddha menjadi lebih matang? Ini adalah lebih dari dialog kepercayaan antara agama yang merangkumi nilai dan budaya, malah mengenai manusia secara menyeluruh. Konsep utama bukan setakat tolak ansur, tetapi bagaimana untuk mengetahui, memahami dan menghargai antara satu sama lain, termasuk kepercayaan masing-masing.”

Membaca lanjut laporan Rev Dr Duncan Reid, klik di sini

Semasa Anwar Ibrahim diwawancara oleh majalah Aliran Monthly, pada 5 Jun 2007, beliau secara tegas mengatakan hanya dengan IFC (Interfaith Council) dapat mewujudkan keharmonian antara agama.

Kata Anwar, "Kita mesti bergerak ke arah itu (IFC). Tiada pilihan. Bagaimana, dalam apa bentuk sekalipun, untuk mendapatkan kumpulan yang lebih mesra mestilah bermula daripada perbincangan – itulah yang telah saya usaha dengan dialog di kalangan Muslim. Saya tidak tahu sama ada anda melihat bahagian dalam resolusi di mana isu komitmen kepada demokrasi dan kebebasan bersuara dipersetujui oleh semua pihak. Atau isu toleransi dan bagaimana ia diikat dengan urus tadbir dan tanggungjawab. Ini adalah isu-isu yang lebih luas, kita perlu mempunyai komitmen yang bersatu"

Idea penubuhan IFC ini selaras dengan cadangan Peter Schier, wakil KAF (Konrad Adenauer Foundation), sebuah yayasan parti Parti Demokratik Kristian Jerman yang sudah beroperasi di Malaysia sejak tahun 80-an.

KAF telah menaja badan pemikir Anwar, Institut Kajian Dasar (IKD) sejak tahun 1984. Pada 2005, KAF telah menaja NGO Malaysia khususnya Bar Council dan IKD menghantar draf IFC kepada kerajaan Malaysia untuk diimplemantasi sebagai peraturan antara agama di Malaysia. Tetapi draf IFC itu ditolak oleh kerajaan.

Membaca lanjut pandangan Peter Schier mengenai IFC di Malaysia, klik di sini dan wawancara penuh Anwar-Aliran Monthly, klik di sini

Terence Netto menulis di Malaysiakini pada 2 Februari 2008, mengenai pertemuan tertutup Anwar Ibrahim dengan 200 paderi dan aktivis Kristian dari Persekutuan Kristian Malaysia di Petaling Jaya, menjelangnya saat-saat akhir PRU 12.

Kehadiran Anwar dan wan Azizah sebagai tetamu jemputan Ketua Biskop Kristian Murphy Pakiam pada 25 Disember 2007, di Rumah Terbuka anjuran Christian Federation of Malaysia di Bukit Nanas, dilihat sebagai satu gambaran positif kepada penganut agama Kristian di Malaysia.

Kunjungan balas, wakil Persekutuan Kristian Malaysia mengunjungi Rumah Terbuka Anwar sempena hari raya aidilfitri


Pertemuan tertutup ini ekoran daripada kunjungan Anwar dan Azizah sebagai tetamu jemputan Majlis Rumah Terbuka Perayaan Christmas, Catholic Archbishop Murphy Pakiam yang dianjurkan oleh Christian Federation of Malaysia pada 25 Disember 2007.

Dalam pertemuan itu Anwar telah berjanji empat perkara utama kepada masyarakat Kristian.

Pertama : Walaupun beliau beragama Islam, tetapi pegangan Islam beliau bukan penghalang kepada pembelaannya untuk membangunkan sebuah negara Malaysia yang bebas dan demokratik serta berpegang teguh kepada Perlembagaan Merdeka.

Kedua : PKR akan menjadi 'orang tengah' untuk menuetralkan sekularisma yang didukung oleh Democratic Action Party(DAP) dengan prinsip Islam yang diperjuangkan oleh PAS. Manakala dasar PKR secara tegas menolak Negara Islam.

Ketiga : Sekiranya PR membentuk kerajaan, penganut Kristian Malaysia boleh dibenarkan menggunakan perkataan ‘Allah’ kerana rakyat Malaysia membesar menggunakan Bahasa Melayu sebagai medium komunikasi.

Keempat : Mahkamah Syariah hanya terhad kepada muslim sahaja khusus dalam Undang-undang Keluarga Islam dan pewarisan tetapi Mahkamah Syariah tidak mempunyai kuasa ke atas masyarakat bukan Islam.

Membaca laporan penuh Terence Netto, klik di sini


Sebenarnya hubungan baik Anwar dengan Kristian bukanlah sesuatu yang asing. Pada tahun 1990-an, beliau pernah dianugerahkah ijazah kedoktoran kehormatan oleh sebuah universiti Kristian di Filifina iaitu Ateneo de Manila University dan anugerah presiden oleh Universiti Kristian Amerika, Georgetown University.

Selepas dibebaskan dari penjara Malaysia, Anwar telah berhijrah ke Amerika dan menjadi pensyarah pelawat di Pusat Persefahaman Muslim dan Kristian, Universiti Georgetown di bawah seliaan gurunya John Esposito.

Pada tahun 2007, semasa di Amerika, Anwar merupakan salah seorang aktivis Muslim yang menandatangani surat kepada Pemimpin-pemimpin Kristian seluruh dunia meminta diadakan perdamaian dan persefahaman. Surat itu dinamakan "A Common Word Between Us and You". Klik di sini


AIDC
06 Disember 2008



Sila klik untuk baca selanjutnya...

Grand design tumbangkan Fairus, TKM 1 Pulau Pinang?



Grand design tumbangkan Fairus, TKM 1 Pulau Pinang ?


Oleh AIDC

Satu blog khas anti Mohammad Fairus Khairuddin, telah dibina oleh blogger yang menggelarkan diri sebagai "budak selayang" telah membongkar segala kesilapan yang dilakukan oleh aktivis muda PKR itu sepanjang memegang jawatan sebagai Timbalan Ketua Menteri I Pulau Pinang.

Blog berjodol alahaifairustkmpenang dipercayai dibina sejak sejak akhir Oktober lalu, telah menyiarkan 16 artikel hingga ke hari ini.

Blog yang menggunakan moto "Blog Alahai ... FAIRUS TKM 1 Penang" menjelaskan sebab-sebab pembinaan blog tersebut.

Tulisnya; "Blog Alahai ... FAIRUS TKM 1 Penang ini lahir setelah pelbagai pihak termasuk Anwar Ibrahim gagal mengubati 'penyakit mental' yang dihidapi sejak sekian lama oleh Mohammad Fairus Khairuddin, Timbalan Ketua Menteri 1 Pulau Pinang.

Kerana selalu bersangka baik, Anwar kini terjerat. Selepas kes Shaiful Azlan, beliau kini berdepan dengan masalah Fairus pula. Kita tidak mahu, kerana lambat bertindak kes Fairus akan terus membelit dan sukar dirungkai akhirnya.

Biar apapun anggapan umum, demi masa depan PR Alahaiii…Fairus tidak akan sesekali berkompromi dengan mana-mana pemimpin yang mengkhianati amanah rakyat, lebih-lebih lagi pemimpin bersifat munafik yang sanggup bersumpah semata-mata mempertahankan pembohongan, kerakusan dan kebobrokannya demi kepentingan diri sendiri.

PR tidak memerlukan pemimpin hipokrit- cakap tidak serupa bikin, bikin tidak serupa cakap, lebih parah mempunyai masalah mental tahap 'koma' !

Barah sedang merebak- kita kena singkirkan ‘virus pemimpin’ sebegini sebelum rakyat singkir PR pada pemilu akan datang ! Selamatkan PR P.Pinang sebelum terlambat !"



Artikel pertama bertajuk "Pembuka kata : Fairus khianat amanah rakyat, rosakkan imej Anwar dan PR" pula ditulis;


"Demi masa depan Pakatan Rakyat (PR) Pulau Pinang khususnya parti keADILan, agar tidak terus dicemuh dan dicaci, oleh akar umbi dan kakitangan kerajaan negeri, dek kerana tindak tanduk bodoh sombong seorang 'pemimpin' yang merosakkan imej parti, maka kami mewujudkan blog ini bagi membongkar 'wajah' sebenar Mohammad Fairus Khairuddin yang menjadi ADUN Penanti, Permatang Pauh secara bidan terjun

Bagi mereka yang tidak kenalnya secara dekat, Alahai.... FAIRUS TKM Penang mungkin dianggap untuk merosakkan imejnya, yang sebenarnya sudah merudum teruk

Kita hanya ada dua pilihan, satu- membiarkan TKM 1 terus bertindak bodoh merosakkan imej PR, atau 2- menyahkan TKM 1 dari kedudukannya sekarang !

Biar apapun tanggapan orang, namun kebenaran perlu diluah. Berkatalah benar biarpun pahit.....bukankah kita semua memperjuangkan kebebasan bersuara ?"



Dakwaan keburukan Fairus - foto Fairus diterbalikkan

Sebagai membuktikan antinya blog tersebut kepada tokoh muda PKR itu, blog itu telah menyiarkan foto Fairus secara diterbalikkan.

Antara dakwaan keburukan-keburukan Timbalan Ketua Menteri 1 Pulau Pinang yang telah dibongkar seperti berikut :

1. Fairuz selalu ponteng dalam melaksanakan kerja kerajaan negeri dengan alasan "sakit perut" dan "ziarah mayat". Baca artikel penuh klik di sini dan di sini

2. Tabiat buruk Fairus suka tidur dalam mesyuarat. Klik di sini

3. Fairus tidak pandai berpolitik dan bermusuh dengan media. Klik di sini

4. Fairus gagal melaksanakan tugas TKM 1 Pulau Pinang. Klik di sini

5. Fairus dikritik oleh Anwar dan aktivis PKR Pulau Pinang. Klik di sini

6. Fairus menerima duit rasuah daripada beberapa tokoh korporat dan telah disalahguna untuk kepentingan diri sendiri. Klik di sini

7. Pengundi DUN Penanti sendiri menolak Fairus. Klik di sini

8. Anwar bengang menerima bukti SMS bahawa TKM 1 sedang mengemis RM 20 ribu untuk dirinya sendiri daripada pihak tertentu di Kuala Lumpur dan pihak berkenaan sedang menimbang untuk melaporkan kes tersebut ke Badan Pencegah Rasuah (BPR). Klik di sini

9. Empat pegawai Fairuz letak jawatan kerana tidak tahan dengan karenahnya yang bodoh sombong. Klik di sini


Sejauh manakah blog ini berjaya mencapai misinya untuk menjatuhkan Mohammad Fairus Khairuddin sebagai Timbalan Ketua Menteri I Pulau Pinang ?

Blog ini juga dipercayai oleh 'orang dalam' yang pernah mengenali Mohammad Fairus secara dekat kerana apa yang dibongkar dalam blog itu turut mendapat perhatian daripada Malaysiakini semalam (4 Disember) yang melaporkan "6 pegawai timb KM P. Pinang letak jawatan" sepertimana yang pernah di blog itu sebelum ini.

Kalau benar apa yang didedahkan dalam blog ini, bermakna semua slogan Anwar yang mahu menyediakan barisan pemimpin Keadilan yang 'bersih' hanya retorik semata-mata.

Slogan-slogan 'anti-korupsi' dan 'pemimpin bersih' hanya retorik untuk memancing undi, apabila sudah mendapat kuasa, pemimpin yang dipilih itu akan lebih teruk dan lebih korup daripada orang yang Anwar tuduh selama ini.

Kalau Fairus korup, Anwar pula bagaimana ? Bukankah pepatah Melayu ada mengatakan, "bapak borek, anak rintik"!


AIDC
5 Disember


Sila klik untuk baca selanjutnya...

Delegasi Muslim Indonesia naungan Gus Dur berkunjung ke Israel

Mesyuarat Bersejarah Delegasi Muslim Indonesia bersama Presiden Shimon Peres di Kediaman Presiden, Israel.


Delegasi Muslim Indonesia naungan Gus Dur berkunjung ke Israel


Oleh : Greer Fay Cashman , THE JERUSALEM POST,

Meskipun kurangnya hubungan rasmi di antara Israel dan Indonesia, delegasi keamanan Indonesia seramai 5 orang telah bertemu Presiden Shimon Peres pada Jumaat. Delegasi tersebut menghabiskan masa selama seminggu di negara ini di bawah naungan Simon Wiesenthal Center (Pusat Wiesenthal Center) dan LibForAll Foundation (Yayasan LibForAll) untuk mempromosikan budaya kebebasan dan toleransi.

Lima rakyat Indonesia mewakili dua kumpulan utama gerakan Muslim. Nahdatul Ulama, secara umumnya dikenali sebagai NU, diketuai oleh bekas Presiden Indonesia, presiden Abdurrahman Wahid, yang merupakan seorang pengasas bersama LibForAll dan Muhammadiah. Bersama-sama, dua gerakan tersebut termasuk 70 juta daripada 195 juta Muslim di Indonesia, daripada jumlah populasi 240 million orang.

Abdurrahman Wahid adalah Ahli Lembaga Gabenor Antarabangsa Pusat Keamanan Simon Peres dan ketika memegang jawatan tersebut, dia telah melawat Israel pada masa yang lalu. Peres juga mengunjungi Wahid di Indonesia, tetapi di atas sebab keselamatan dia tidak boleh berada di sana lebih daripada satu hari.

Walaupun ketiadaan hubungan diplomatik, namun terdapat sesetengah ahli perniagaan Indonesia terlibat dalam usaha sama dengan Israel. Apabila Peres menyebut mengenai perkara ini, ahli delegasi menyatakan mereka sedar tentang aktiviti ini.

Pada 2005, Indonesia menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk mangsa-mangsa gempa bumi yang besar, menggegarkan rantau tersebut dari Indonesia, Sri Lanka dan Thailand.

C. Holland Taylor (CEO LibForAll Foundation) telah memberitahu Peres bahawa Abdurrahman Wahid telah mengeluarkan satu kenyataan tentang HAMAS, dengan menyatakan bahawa Indonesia adalah satu-satunya organisasi Muslim yang besar di dunia yang menolak HAMAS.

Syfiq Mugni, wakil Muhammadiah, Indonesia menghadiahkan kippa 'Indonesia'kepada Peres ditulis "Shalom" bermakna "Aman-Kedamaian". Turut memerhati Tylor, CEO LibForAll Foundation yang dinaungi Gus Dur



Syfiq Mugni, mewakili Muhammadiah, menghadiahkan Peres satu kippa (topi) yang dikait sulaman tulisan perkataan “shalom” (bahasa Ibrani bermaksud sejahtera) dalam huruf Hebrew dan Latin, termasuk perkataan Indonesia iaitu "Kedamaian". Peres terus mengenakan kippa tersebut ke kepalanya untuk menggembirakan tetamunya.

Perbualan yang merangkumi semua perkara meliputi ekonomi, politik, agama dan sambutan ulang tahun ke 60 Israel.

Peres dapat menjangkakan, disebabkan Indonesia sebuah republik pulau yang dikelilingi air, pada suatu hari nanti ia akan menjadi salah satu negara yang paling makmur di dunia. Ini kerana, tidak seperti negara lain, ia tidak perlu mengimport air, hanya menyahgaramkannya. Tambahan pula, disebabkan ia mendapat pancaran cahaya matahari hampir sepanjang tahun, ia dapat beroperasi menggunakan tenaga solar, selain daripada mengurangkan kos tenaga yang dapat mengurangkan pencemaran.

Peres menyatakan bahawa Israel gembira untuk menjalinkan hubungan dengan Indonesia dan untuk menjemput kepimpinan Indonesia, bersama pemimpin negara- negara lain di seluruh dunia, untuk menyertai sembahyang untuk keamanan sempena ulang tahun Israel ke-60.

Dialog bersama bekas Ketua Rabbi Israel Lau di pejabatnya di Tel Aviv




Peres dijangka mengeluarkan satu seruan kepada kaum Yahudi di seluruh dunia untuk menyertai khidmat saumaah (tempat kaum Yahudi bertemu untuk acara agama dan arahan) di Shabbat, pada hari yang paling hampir dengan Hari Kemerdekaan Israel dan doa untuk keamanan. Dia mahu menjadikan hari sembahyang tersebut kepada satu dimensi yang berterusan.

“Kami akan memanggil semua anak-anak Abraham untuk datang dan berdoa untuk keamanan,” katanya, “Ia akan menjadi demonstrasi senyap untuk penyatuan.”

Dalam konteks ini, dia sedang merujuk secara spesifik untuk menjemput tiga agama monoteistik (agama yang percaya Allah hanya satu) – tetapi dalam perbualan seterusnya dia meluaskan skop untuk menyertakan orang ramai dari semua agama.

Mugni bercakap mengenai usaha Indonesia untuk membangunkan ekonominya, demokrasi dan yang paling peting, sistem pendidikannya. “Kami berharap laluan ini akan pantas,” katanya dalam mengaitkannya dengan perkara pendidikan, “Kami mempunyai masalah ekonomi, tetapi kami [juga] mempunyai masalah mentaliti. Kami cuba untuk menggalakkan satu sikap Muslim yang lebih toleran, lebih aman. Sesetengahnya menolak demokrasi.”

Tanda bersatu Muslim Indonesia dan Israel



Wakil Nahdatul Ulama, Abdul A'la, bersetuju dengan pendapat Mugni, menyatakan terdapat kumpulan kecil pelampau, tetapi ditekankan melalui nilai Islam “Keamanan mesti ada. Kita tidak dapat hidup tanpa keamanan.”

Delegasi Muslim Indonesia berbaris bersama pelajar agama Yahudi dalam sambutan Chanukah (Pesta lampu meraikan keajaiban Maccabees)- Qiryat Shemona Yeshivat Hesder


Pesta lampu Chanukah




Kumpulan tersebut berkongsi pengalaman mereka dalam berbicara bersama rakyat Palestin yang moderat yang telah bersetuju bahawa terdapat manfaat bagi kedua-dua pihak, rakyat Palestin dan Israel sekiranya tidak berlaku konflik dan keganasan fizikal.

“Kami berdoa untuk ini,” kata Mugni.

Peres memberitahu delegasi tersebut bahawa pada 1947 resolusi Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) mengenai pembahagian Palestin tidak merujuk kepada sebuah negara Palestin, tetapi kepada negara Arab.

“Rakyat Palestin tidak diiktiraf sebagai mana-mana warganegara atau sebuah negara, ”katanya. “Negara Arab tidak pernah mengiktiraf rakyat Palestin. Israel adalah negara pertama yang mengiktiraf rakyat Palestin sebagai rakyat dengan hak untuk memiliki negara mereka sendiri.”

Pada Jun tahun ini, dua organisasi telah menaja satu persidangan di Bali mengenai “Toleransi di antara agama,” yang disertai penganut Hindu, Muslim dan Yahudi yang terselamat dalam pengeboman berani mati, dan juga Holocaust (Pembunuhan beramai-ramai). Persidangan tersebut dianjurkan di bawah naungan Abdurrahman Wahid.

Oktober lepas, delegasi wartawan Indonesia seramai tujuh orang bertemu dengan Peres, yang memberitahu mereka bahawa Indonesia mempunyai peranan yang penting untuk bersama-sama di dalam proses keamanan rakyat Israel-Palestin. Sebab utama adalah Indonesia telah memperkenalkan satu era baru dalam persepsi masyarakat antarabangsa mengenai Islam, dengan membuktikan bahawa pemikiran cara moden dan agama dapat bergerak bersama-sama.

Peres memberikan pandangan yang sama mengenai Turki, dan sekali lagi menyatakannya apabila berbicara bersama tetamu Indonesianya.

Delegasi keamanan melawat Israel secara tidak rasmi itu juga bertemu dengan rakyat Palestin moderat di Ramallah.

Bersama Ketua Rabbi Tzefania Drori




Ditemani oleh Dekan Bersekutu Wiesenthal Center, Rabbi Abraham Cooper dan CEO LibForAll Foundation C. Holland Taylor, delegasi tersebut menikmati pengalaman keagamaan daripada kedua-dua penganut agama Yahudi dan Muslim, menyertai upacara menyalakan lilin Hanukka diikuti tarian di Hesder Yeshiva di Kiryat Shmona.

Mereka juga melawat murid- murid sekolah di Sderot dan tempat pemantauan yang dapat menyaksikan Semenanjung Gaza.


AIDC menterjemah artikel THE JERUSALEM POST bertarikh 8 Disember 2007 yang melaporkan aktiviti kunjungan delegasi Indonesia itu. Artikel asal klik di sini


Artikel berkaitan :



1. Gus Dur perintis jambatan diplomatik Indonesia - Israel ?

2. Gus Dur Benar-benar Agen Yahudi?

3. Perjalanan Seorang Missionari Amerika ke Dunia Islam

4. Gus Dur kata Al-Qur’an sama kitab porno ?

5. Badan pemikir Gus Dur- The Wahid Institute- Kembangkan Pluralisme

6. Gus Dur Tetap Mahu Jadi Calon Presiden Indonesia 2009

7. Muslim Moderat Halalkan Homoseksual ?

8. Konflik Palestin : Anwar Ibrahim kata HAMAS tidak demokrasi - Israel insider

9. Anwar Ibrahim : Bakal Perdana Menteri Malaysia ? - The Jerusalem Post

10. Rahsia tugasan Anwar - Resolusi pertemuan sulit Anwar dan Wolfowitz di Munich

11. Hati-hati dengan Anwar, pesan Dr Yusof Qardawi..

12. Strategi RAND Corporation kaderkan Anwar Ibrahim sebagai Muslim Moderat


Sila klik untuk baca selanjutnya...

Memahami serangan anai-anai Erdogan



Memahami serangan anai-anai Erdogan


Oleh AIDC

Ketika Dr Hassan Ali, Pesuruhjaya PAS Selangor mula mencantas team Erdogan, ramai yang cuba berpolemik kata itu agenda peribadi antara Dr Hassan Ali vs Khalid Samad & Saari Sungip. Tetapi benarkah begitu ?

Tradisi PAS, jarang melucutkan jawatan seseorang, kecuali jika difikirkan perlu untuk membendung bahaya yang lebih besar. Tradisi PAS juga akan bertindak dalam diam, melucutkan jawatan seseorang tanpa diberi penjelasan sebab-sebab pemecatannya. Itu budaya PAS yang sukar difahami oleh kebanyakan orang.

Kena faham budaya dan nilai PAS. Akar PAS adalah Melayu dan Islam. Inilah kelompok yang menjadi tapak PAS. Orang Melayu tidak pernah ke gereja, sesiapa yang pernah pijak tangga gereja pun sudah dianggap serong, apatah lagi masuk dan berucap dalam gereja untuk penganut Kristian. Bermakna kehadiran Khalid Samad ke Gereja Roman Katolik Mercy Yang Indah, di Shah Alam selepas PRU 12 adalah elemen budaya baru yang tidak pernah diamalkan sebelum ini.

PAS mempunyai pandangan berbeza terhadap agama dari langit dengan agama buatan manusia. Di situlah titik perbezaan antara Kristian dan Buddha. Al Quran menyebut peri bahayanya agama Yahudi dan Nasrani dalam merosakkan Islam. Bukan sekali disebut dalam Al Quran, malah berkali-kali dan ingatan itu bukan sahaja dipegang oleh PAS, malah menjadi pegangan umum, seluruh umat Islam di dunia.

Hari ini, agama Yahudi sudah ditransfomasi dalam pelbagai bentuk termasuk Judaisme, manakala Nasrani pula dijelmakan semula sebagai Kristian. Agama buatan manusia bersifat statik, tetapi agama samawi cepat berkembang, bukan sahaja di gurun sahara, tetapi kini sudah menular di ibu kota dunia khususnya Amerika Syarikat. Itulah titik beza antara Islam, Kristian dan Judaisme.

Sebab itu, sekiranya terdapatnya pusat di Amerika yang berusaha meliberalkan antara Islam dan Kristian, itu adalah usaha anai-anai yang berusaha merosakkan agama. Misalnya Universiti Georgetown Amerika yang ditaja Amerika melalui The Pluralisme Project yang berpusat di Harvard University. Maknanya asas serangan bermula di universiti, baik yang bernama Harvard ataupun Georgetown.

Pada permukaan nampak elok, Pengarah urusan adalah Kristian, John Esposito dan misinya sekali imbas nampak bagus, iaitu Pusat Persefahaman antara Muslim dan Kristian (the Center for Muslim-Christian Understanding). Tetapi siapakah yang mahukan persefahaman antara Muslim dan Kristian itu ? Siapa pengarahnya, John Esposito. Apa agamanya ? Kristian. klik di sini, di sini , di sini dan di sini

Siapakah pensyarah-pensyarahnya ? John Voll, Yvonne Haddad, Shireen Hunter. Apakah mereka Muslim ? Tidak. Mereka beragama Kristian. Siapa pensyarah Muslim ? Anwar Ibrahim. Mampukah muslim bernama Anwar Ibrahim mampu melawan hujah-hujah Kristian diketuai John Esposito ?

Itu pun sudah tidak adil. Empat pensyarah Kristian lawan satu pensyarah Muslim. Ibarat perdebatan dalam forum, tiga ahli panel beragama Kristian lawan satu ahli panel beragama Islam. Bincang topik "Persefahaman antara Muslim dan Kristian". Siapa pemenangnya, kalau pengerusi majlis pun beragama Kristian ?

Persoalannya adakah Anwar Ibrahim mampu melawan arus, kerana semua grand design pusat pluralisme itu disusun oleh John Esposito ? Apatah lagi pengambilan Anwar sendiri pun atas ihsan John Esposito sendiri? Anwar mampu melawan hujah atau Anwar sekadar menambah apa yang John Esposito tidak tahu sebelum ini ?

Itu dari segi luaran. Bagaimana pula dari segi dalaman. Siapa yang taja Pusat persefahaman Muslim-Kristian itu ? The Pluralisme Project Harvard University. Maknanya persefahaman Muslim dan Kristian adalah 'nama cantik' kepada projek pluralisme.

Maknanya walaupun nama asalnya Pusat persefahaman Muslim dan Kristian, tetapi yang tersiratnya adalah Pusat Pluralisme Muslim dan Kristian.

Apa makna pluralisme ? Makna pluralisme, bukan sekadar bermaksud 'persefahaman', tetapi lebih jauh bermaksud mengiktiraf semua agama adalah sama. Itu seperti usaha mahu meliberalkan agama yang ditransfomasi hari ini sebagai Islam Liberal.

Siapa pula taja The Pluralisme Project Harvard University ? Ford Foundation dan Rockefeller Foundation. Klik di sini

Di sini baru muncul pemain sebenar iaitu Yahudi yang berselindung di sebalik yayasan Ford dan Rockefeller. Yahudi menyalurkan wang kepada Georgetown University, John Esposito mentransfomasikannya kepada jenama baru Pusat Persefahaman Muslim dan Kristian dan Anwar Ibrahim mempakejkan pula kepada jenama baru sebagai "Islam dan Demokrasi".

Masukkan perkataan "Islam" sebelum perkataan "Demokrasi", sudah cukup untuk mengelirukan umat Islam.

Walaupun nampak bersimpang siur, tetapi masih kembali kepada inti asal yang diperingatkan dalam Al Quran iaitu pertembungan antara Islam, Nasrani dan Yahudi.

Sebab itu, sebelum PRU ke 12, Anwar Ibrahim mengadakan perjumpaan tertutup dengan Ketua Biskop Kristian Malaysia Murphy Pakiam , Christian Federation of Malaysia (CFM). Turut hadir bersama Anwar adalah Dr Xavier Jeyakumar (sekarang dilantik exco agama bukan Islam di Selangor) Klik di sini dan di sini

Jadi sama ada dirancang atau kebetulan, tindakan Khalid Samad, berceramah di Gereja Roman Katolik Mercy Yang Indah, di Shah Alam adalah sama dengan tindakan Anwar berdailog tertutup dengan Ketua Biskop Kristian Malaysia Murphy Pakiam, Christian Federation of Malaysia (CFM).

Tindakan Khalid ini dilihat merentasi sempadan dasar PAS. PAS boleh hadir di tokong atau kuil, itu agama buatan manusia yang boleh dikompromi. Tetapi Khalid telah hadir ke gereja, maknanya Khalid telah merentasi salah satu agama langit, iaitu Kristian.

Sepatutnya Khalid perlu peka dengan sejarah Islam. Rentetan perang termasuk Perang Salib, hingga runtuhnya sistem khalifah di Turki, perang antara Islam dengan agama buatan manusia (Buddha atau Hindu) atau perang Islam dengan agama dari langit ?

Transfomasi budaya dalam PKR merentasi sempadan kaum. Tian Chua boleh berbaju Melayu dan bersongkok. Tidak semestinya masuk Melayu. Diapit oleh Paderi Kristian yang latar belakang lagu nasyid (Islam) yang dinyanyikan oleh bekas kumpulan The Brothers, Yassin. Kehadiran Paderi Kristian itu bersama Anwar membayangkan misi PKR juga melancarkan transformasi agama di Malaysia.


Dari segi kebijaksanaan, kalau benar sekalipun Khalid Samad ingin mengucapkan terima kasih kepada pengundi Kristian di Shah Alam, perlukan beliau mengunjungi dan berucap dalam gereja ? Bukankah itu menzahirkan 'perjanjian awal' yang dibuat oleh Anwar dan Ketua Biskop Kristian Malaysia sebelum ini ?

Khalid Samad bukan ahli parti PKR. Dia mewakili parti PAS. Kalau Dr Xavier Jeyakumar yang menjadi wakil memberi ucapan terima kasih Gereja Roman Katolik Mercy Yang Indah, di Shah Alam tempohari, maksudnya lain. Tetapi, jika Khalid Samad yang berjawatan Timbalan Pesuruhjaya PAS Selangor, berkunjung ke gereja, maksudnya lain.

Apa maksud lain kunjungan Khalid ke gereja ?. Maksudnya, anai-anai Erdogan sudah mula mereputkan lantai-lantai asas PAS. Kalau dibiarkan lebih lama, anai-anai mampu meruntuhkan asas rumah.





Khalid Samad kata dia sudah masuk PAS sejak 1983. Sebelum ini dia adalah Ketua Suara Islam di UK. Maknanya dia juga masih baru dalam PAS. Semasa di UK, dia menubuhkan kelab selain daripada PAS iaitu Suara Islam.

Khalid juga kata, dia bukan Pro Anwar Ibrahim, tetapi Pro- Pakatan Rakyat(PR). Apa beza pro PR dengan pro Anwar, sedangkan ketua PR adalah Anwar ? Semua mesyuarat PR diatur dan dipengerusikan Anwar. Semua kenyataan media di dalam dan di luar negara, semuanya melalui mulut Anwar. Sepatutnya Khalid perlu kata, saya bukan pro Anwar, tetapi pro PAS! Dua kenyataan yang membawa maksud berlainan.

Saari Sungip pun masih terlalu baru dalam PAS. Masuk selepas PRU 2004. Masih baru dan tidak perlu tergopoh gapah merebut jawatan penting dalam PAS.

Siapa Saari ? Dia lebih dikenali sebagai abu urwah, nama yang terkenal semasa di UK, dalam IRC yang kemudiannya ditranformasi sebagai JIM pada awal tahun 1990. Ini lagi menarik jika dikupas lanjut.

Selalunya Mustafa Ali akan bersuara, jika terasa PAS diancam. Pada tahun 1982, ketika Anwar masuk UMNO, fraksi PAS dan ABIM berpecah dua, ketika itu Mustafa Ali yang menjawat jawatan Ketua Dewan Pemuda PAS, bersuara, mulai saat ini, PAS akan melakukan sendiri usaha pengkaderan dan pentarbiyahan PAS.

Pada hari ini, ketika Anwar mencanang idea menjadi PM, Mustafa Ali kembali bersuara semula. Sejarah membuktikan apa yang dirasakan dalam hati Mustafa Ali adalah benar iaitu untuk menyelamatkan PAS!


....bersambung siri ke II


AIDC
04 Disember



Sila klik untuk baca selanjutnya...

Pasukan Penasihat Anwar Ibrahim Kurang Berwibawa

Anwar Ibrahim, sedang memberi cenderamata kepada BJ Habibie dalam program anjuran IKD di Kuala Lumpur pada tahun 1990-an. IKD merupakan think tank, Anwar yang dipengerusikan oleh sahabat baiknya, Kamaruddin Jaafar, no 2 dari kiri. Manakala Habibie juga mempunyai think tanknya sendiri yang dulu dikenali CIDES dan sekarang lebih dikenali sebagai The Habibie Center.

Pasukan Penasihat Anwar Ibrahim Kurang Berwibawa


Oleh Yahaya Ismail

Banyak pemimpin politik dan kerajaan jatuh tersungkur dinista rakyat oleh kerana mendapat nasihat dari para penasihat yang kurang berwibawa atau pun yang mempunyai kepentingan peribadi yang lebih besar dari kepentingan politik bos mereka. Marcos, Sukarno, Suharto, Shah Iran dan Anwar Sadat jatuh kerana mereka terlalu percaya dan yakin dengan para penasihat masing-masing yang mempunyai agenda mereka yang tersendiri.

Anwar juga mempunyai satu kumpulan penasihat politik yang kebanyakannya terdiri dari para akademik, terutama sekali dari UIA, jutawan-jutawan ala mi segera yang bersama-sama dengan Anwar dalam ABIM seperti Kamaruddin Jaafar dan Kamaruddin Mohd Nor yang boleh dianggap tidak begitu berpengalaman di bidang sepak terajang politik.

Institiut Kajian Dasar (IKD) yang dipimpin Kamaruddin Jaafar dikatakan sebagai think tank Anwar untuk memberi buah fikiran dan mengatur strategi bagi menyemarakkan lagi ketokohan putera Ceruk Tok Kun ini bukan saja dalam arena politik kebangsaan tetapi juga luar negara.

IKD inilah yang merancang berbagai seminar, persidangan antarabangsa dan juga nasional di mana Anwar ditampilkan sebagai pembicara utama atau pun sebagai pembuka tirai pembicaraan.

Dalam politik nasional IKD merancangkan supaya sebahagian besar ketua-ketua bahagian UMNO berpihak kepada Anwar selain meletakkan juak-juak Anwar dalam berbagai sektor korporat, universiti-universiti, badan-badan separuh kerajaan, kementerian-kementerian dan jabatan-jabatan kerajaan lainnya di samping berbagai persatuan belia, ABIM (sudah pasti), badan-badan bukan kerajaan dan juga mempunyai peminat di kalangan polis dan tentera. Selain dan itu ada semacam hubungan batin antara setengah pemimpin PAS dengan Anwar terutama sekali hubungan yang erat antara Ustaz Fadzil Nor dengan Anwar sejak zaman remaja mereka dalam ABIM lagi.

Walau pun dari segi akademik Anwar tidak begitu cemerlang namun puak-puak IKD dan juak-juaknya di UIA cuba mengenengahkan Anwar sebagai seorang intelektual yang liberal sesuai dengan iklim budaya Barat. Dikatakan berbagai pensyarah banyak memberi input kepada Anwar untuk menyediakan bahan-bahan ucapannya dari masa ke masa supaya memprojeksikan dia sebagai seorang tokoh intelektual muda yang penuh wibawa.

Malah dikatakan bukunya The Asian Renaissance (diterjemahkan ke bahasa Melayu dengan nama Gelombang Kebangkitan Asia) banyak mengandungi cacatan kaki yang umumnya dibuat oleh para sarjana tetapi jarang dilakukan oleh seorang pengarang / politikus. Mahathir misalnya menulis The Malay Dilemma (diterjemahkan ke bahasa Melayu sebagai Delima Melayu) tidak menggunakan cacatan kaki oleh kerana pemikiran yang dikemukakannya dalam karyanya itu adalah asli kepunyaannya, dan bukan diceduk dari berbagai sumber seperti mana yang dilakukar Anwar. Dengan kata lain, taraf intelektualisme Mahathir jauh lebih tinggi dari Anwar yang terpaksa meminta para penasihat tertentu untuk membantunya.

IKD juga membuat hubungan dengan pihak-pihak tertentu di seberang laut untuk mengenengahkan. Anwar sebagai pemimpin kelas dunia bagi mengimbangi ketokohan Mahathir yang tidak mempunyai organisasi khusus untuk menggilap imejnya. IKD ini pernah mengadakan persidangan tentang Jose Rizal, pemimpin kemerdekaan Filipina yang tersohor, di Kuala Lumpur di mana Mahathir, Ramos dan Anwar diundang.

Dalam persidangan mengenai Jose Rizal ini nampaknya Anwar dan Ramos mendapat sanjungan yang istimewa dari Mahathir yang tidak diberi kesempatan untuk memberi ucapan penting. Sebelum persidangan Jose Rizal di Kuala Lumpur Anwar telah pun diundang ke Manila untuk memberi ucapan penting dalam persidangan yang sama untuk mengingati pejuang kemerdekaan Filifina tersebut. Di sini dia telah diterima sebagai ahli akademi yang memperjuangkan cita-cita Jose Rizal dan diberi gelaran “Sir” pula.


Melalui keahliannya dalam akademi tersebut Anwar telah dianggap sebagai salah seorang pemimpin politik yang bertaraf antarabangsa dan adalah menjadi kebanggaan pihak Filipina menerima keahliannya itu. Sekurang-kurangnya mereka mendapat seorang pemimpin Islam yang berwibawa dari Malaysia, seorang Timbalan Perdana Menteri merangkap Menteri Kewangan merangkap Timbalan Presiden UMNO (sekarang menjadi "bekas" atau kalau nak pakai "almarhum" boleh juga) sebagai ahli akademi Jose Rizal. Sekurang-kurangnya golongan Katolik Filipina mempunyai seorang tokoh Islam yang terkemuka dari Malaysia sebagai ahli akademi Jose Rizal itu.

Memang apa yang diharap-harapkan Anwar dan juak-juaknya menjadi kenyataan. Bila mana Anwar ditahan di bawah ISA dan kini dibicarakan atas 10 pertuduhan yang menyangkut korupsi dan meliwat, Presiden Filipina, Estrada, bekas pelakon filem yang mempunyai tujuh anak di luar nikah, terus membelanya dan menganggap Anwar my good friend.

Malah dia sering membuat kenyataan yang menyalahkan kerajaan Malaysia hingga menimbulkan kurang senang di kalangan rakyat dan kerajaan Malaysia kerana mencampuri urusan negara jiran. Selain Estrada beberapa orang senator dan akademi Jose Rizal juga menyebelahi Anwar memandangkan dia dianggap salah seorang ahli akademi yang penting.

Betapa lucunya seorang Presiden Filipina yang majoriti rakyatnya beragama Roman Katolik dan yang mempunyai setengah dosen anak di luar nikah kini cuba menjadi juara kepada seorang bekas Timbalan Perdana Menteri yang mendakwa dirinya pejuang Islam dan kini menghadapi tuduhan bukan khalwat tetapi meliwat!

Rupa-rupanya bukan saja Estrada yang menjadi good friend Anwar tetapi juga pertubuhan gay dan homoseksual Filipina pun tampil ke depan (bukan dari belakang) membela rakan sepermainan mereka. Kita tidak tahu dengan pasti apakah Anwar menjadi ahli pertubuhan gay dan homoseksual di Manila tetapi nampaknya golongan gay di Filipina sangat tertarik dengan kes Anwar itu.

Mudah-mudahan janganlah ada pula pertubuhan gay dan homoseksual sedunia yang meminta dan mendesak Amerika agar mengadakan sekatan ekonomi ke atas Malaysia gara-gara Anwar dituduh meliwat beberapa orang jantan atas alasan melanggar hak asasi manusia dan individu untuk meliwat dan diliwatkan. Banyak juga orang berasa bimbang bila mana Anwar dan Wan Azizah membenarkan anak gadis mereka menemui Estrada meminta sokongan moral dari seorang pemimpin banyak gundek dan banyak pula anak di luar nikah itu.

IKD juga mempunyai hubungan yang erat dengan ICMI (Ikatan Cendikiwan Muslim Indonesia) yang dipimpin BJ Habibie. Habibie yang kedudukan politiknya juga terumbang ambing seperti gelora Laut Jawa juga cuba mencampuri urusan dalaman Malaysia tanpa menyedari bahawa negaranya sendiri gawat segawat-gawatnya dan demonstrasi, yang diupah yang halal dan haram, berlaku saban hari.

Demikian juga Anwar mendapat sokongan moral dari peguam Indonesia memperjuangkan hak asasi manusia di negara tersebut, Adnan Buyong Nasution. Dia dan beberapa orang peguam Indonesia datang ke Kuala Lumpur untuk melihat apakah perjalanan perbicaraan Anwar itu bertaraf antarabangsa dan hak asasi manusia dipertahankan serta keadilan terjamin.

Kita hanya ketawa bila aktivis-aktivis Indonesia dan peguam-peguam Indonesia mahu "mengajar" kita erti hak dan kebebasan bila mana mereka sendiri tidak mengamalkan demokrasi dalam pembentukan kerajaan mereka. Sebaik-baiknya bapak ajarin dulu reformasi di negara bapak atau, kalau nggak mampu, nggak punya ide yang gede, nah, minta bantuan dari Malaysia. Kan jutaan rakyat Indonesia bersabung nyawa mampir ke sini cari rezeki toh. Kalau Malaysia nggak bagus, pemimpinnya brengsek sudah pasti mereka tidak mahu datang ke Malaysia masuk secara haram. Ribuan yang mati dibaham jerung, pak, lantaran kangen nak ke Malaysia. Kini kalau ada perahu karam banyak deh yang mati lemas dan ada yang terapung dan tersadai di pantai.

Sekarang terdapat kira-kira dua juta rakyat Indonesia yang tinggal di negara kami secara halal dan haram. Kalau pemerintah kami nggak prihatin dan tak ada belas kasihan sudah pasti banyak antara mereka akan diusir dari sini. Kami tahu erti hak asasi manusia dan tahu menghargai keadilan. Bapak usah kuatir deh. Yang penting bapak harus perjuangkan hak asasi dan demokrasi di negara bapak sendiri kerana Indonesia terlalu gawat dalam serba serbi deh.

Anwar dan para penasihatnya yang kurang matang dalam politik menganggap dengan sokongan moral dari Habibie dan Estrada Mahathir menjadi gentar. Sorrylah. Mahathir bukan seorang tokoh yang mudah patah semangat lantaran ada Presiden dari negara-negara jiran cuba mencampuri urusan Malaysia. Hanya pemimpin yang tidak bijak berpolitik dan jahil tentang diplomasi antarabangsa akan membuat teguran-teguran yang negatif terhadap negara lain.

Orang tahu di belakang Habibie dan Estrada ialah Amerika Syarikat dan kedua pemimpin ini, seperti juga Anwar, akan menari menurut rentak musik rock dari Washington. Kita kaji pula latarbelakang kedua pemimpin ini. Kedua-duanya baru saja menjadi pemimpin negara masing-masing dan baru menikmati kekuasaan politik yang tidak pernah mereka mimpikan sebelum ini. Lalu mereka menjadi terlalu excited untuk memperkenalkan diri di pentas politik antarabangsa tanpa menyedari kenyataan-kenyataan mereka membela Anwar itu memperlihatkan ketidakbijaksanaan mereka sebagai pemimpin negara.

Walaupun penasihat-penasihat politik Anwar yang kaya dengan ilmu tetapi cetek dalam mainan politik berjaya menonjolkan Anwar sebagai seorang pemimpin yang bertaraf ”antarabangsa” namun pemecatan Anwar kerana salah laku seks di luar tabi’i menghancurkan segala impian mereka untuk melihat Anwar sebagai bakal Perdana Menteri. Mereka boleh merancang strategi mengangkat martabat kepimpinan Anwar di peringkat negara dan juga antarabangsa. Tetapi satu hal yang nyata, mereka para penasihat itu, tidak dapat mengekang nafsu seks di luar tabii Anwar seperti mana yang dikemukakan sebagai tuduhan terhadap Anwar itu.

Saya juga merakamkan pandangan seorang pejuang Islam mengenai seks dan kuasa politik. Anda jangan terkejut dengan kenyataan ini kerana ia datangnya dari seorang pejuang Islam yang bercakap besar tentang kemuliaan akhlak.

Anwar on philandering

MR : Why do you think the allegations against you are so strongly sexual in nature?

ANWAR : A strong sexual taboo has existed for years in this country, which is hypocritical. Does this mean that if you womanise you are automatically disqualified from being a Minister or Deputy Prime Minister or Prime Minister in this country?

MR : Does this essentially make you the Last International Ladies Man in Malaysia?

ANWAR : (Laughter from both Datuk Seri dan Datin Seri Wan Azizah). But to associate me at one time with 33 women and umpteen men, that is a bit tough….


(Men’s Review, Nov 1998, hal. 76.)



Terjemahannya :

Anwar mengenai berfoya-foya dengan seks

MR : Apa pandangan anda terhadap tuduhan-tuduhan terhadap anda yang sangat menekankan soal seks?

ANWAR : Suatu pantang larang yang kuat mengenai seks telah wujud di negara ini sejak bertahun-tahun. Ini pandangan hipokrit. Apakah ini bermakna kalau anda sukakan perempuan secara automatik tidak layak menjadi Perdana Menteri atau Perdana Menteri di negara ini?

MR : Apakah dengan ini bermakna anda adalah jejaka terakhir untuk Wanita Antarabangsa di Malaysia?

ANWAR : (Datuk Seri dan Satin Seri Wan Azizah kedua-duany ketawa). Tetapi mengaitkan saya dengan 33 orang perempuan dan beberapa banyak lelaki dalam satu masa adalah terlalu teruk.


Ini jawapan yang jujur dan ikhlas dari seorang pejuang Islam yang kini dituduh meliwat. Nampaknya dia tidak berpegang kuat kepada akhlak yang mulia seperti yang ia gembur-gemburkan dalam pidato dan ceramah-ceramahnya selama ini. Barangkali inilah reformasi yang ia hendak laksanakan dalam masyarakat Malaysia sekiranya dia menjadi Perdana Menteri. Persetan dengan seks di luar nikah. Itu hipokrit. Dan secara tidak disedarinya dia mengaku bahawa dia juga berselera dengan perempuan dan barangkali juga dengan jantan. Horray! Menang reformasi!

Apakah pengampu-pengampu reformasi sanggup menerima seorang pejuang Islam yang pernah menjadi imam, khatib dan seorang yang bercakap tentang akhlak mulia, seorang yang kononnya warak tetapi kini mengaku bahawa penyelewengan dengan perempuan dan jantan itu adalah suatu hipokrasi?

Apakah Anwar layak menjadi Perdana Menteri setelah membuat pengakuannya seperti yang tersebut di atas? Janganlah terlalu taksub hingga tidak dapat menggunakan akal secara waras untuk menilai seseorang pemimpin. Seperti Dr Jackall and Mr Hyde, Anwar juga memakai berbagai topeng untuk mengelirukan rakyat.

Para penasihatnya yang mengharapkan "syorga di dunia" yang rapat dengan Anwar terus menerus menyebarkan dakyah sambil mengelus-elus ketokohan Anwar sebagai pemimpin politik yang berjiwa Islam, berakhlak mulia dan seorang yang dihormati ramai oleh para pemimpin dalam dan luar negara terutama sekali negara-negara Barat dan Timur Tengah.


Mereka yang ada otak tetapi tidak boleh berfikir secara rasional terus menelan propaganda itu. Para penasihat ini sedar sekiranya Anwar tersingkir dari pusat kekuasaan dan tidak menjadi Perdana Menteri maka alamatlah mereka juga akan merasakan kejatuhannya. Oleh itu sedaya upaya mereka mesti merancang untuk menggugat kepimpinan Mahathir dan berusaha memulihkan semula ketokohan dan kepimpinan Anwar sebagai bakal Perdana Menteri Malaysia. Ini mimpi para penasihat Anwar yang kaya dengan ilmu tetapi cetek pengetahuan dan pengalaman dalam sepak terajang politik.

Dikatakan ada beberapa orang penasihat dan pengampu Anwar dari UIA dan juga dalam ABIM yang terlalu optimistik bahawa mereka akan dipilih sebagai calon dalam pilihan raya yang lalu oleh kerana pencalonan mereka akan disokong dan diluluskan oleh Anwar. Ada yang bermimpi hendak menjadi Ketua Menteri Melaka, Menteri Besar Kedah, Perlis dan Perak. Pendek kata tidak ada yang menganggap diri mereka hanya layak sebagai ADUN atau pun wakil Parlimen. Mereka menganggap diri mereka lebih baik dari Ketua Menteri dan Menteri-menteri Besar yang ada. Kononnya juak-juak ini sudah pun turun ke negeri masing-masing mencanang bahawa mereka akan mengambil alih kepimpinan kerajaan negeri dan bakal menjadi calon kelak.

Apa yang dimimpikan tidak menjadi kenyataan. Juak-juak yang kurang berpengalaman ini tidak dipilih sebagai calon dalam pilihan raya tahun 1995 dan kembalilah mereka ke tempat asal membawa duka nestapa yang tak ada hujungnya.

Dari hal penasihat-penasihat yang kaya dengan ilmu tetapi miskin dengan pengorbanan, bersikap oportunistik, kurang pengalaman akhirnya ditolak oleh ketua-ketua perhubungan negeri dan keputusan akhimya terletak di tangan Presiden parti. Presiden parti tentulah akan memilih calon-calon yang dianggapnya boleh diterima oleh rakyat, ada jasa kepada masyarakat dan parti dan lebih-lebih lagi kesetiaan yang tidak berbelah bagi kepada dirinya dan bukan sebagai musuh politiknya.

Kini Anwar bukan lagi Timbalan Perdana Menteri, juga bukan ahli UMNO. Tempat berteduh dan bergayut sudah hilang. Para penasihat ini yang menjadi jutawan terkejut dan pensyarah serta pegawai bimbang akan kehilangan segala nikmat dan kedudukan penting masing-masing. Inilah mainan gelombang politik. Pasang surutnya tidak menentu. Suatu waktu memberi khutbah mengangkat martabat manusia yang berakhlak mulia, dan dalam ketika yang lain, jatuh tersepuk membaham debu kerana dituduh meliwat. Sebenarnya reformasi itu bermula dalam diri sendiri sebelum melontarkan idea itu ke tengah masyarakat. Barangkali kini mereka sedar tokoh yang diagung-agungkan itu rupa-rupanya menyembunyikan sesuatu di belakang topeng dalam lakonan politiknya.


AIDC memetik buku tulisan Yahaya Ismail bertajuk "62 Dalil Mengapa Reformasi Anwar Gagal", Penerbitan Usaha Teguh Sdn Bhd, Petaling Jaya, 1999


Sila klik untuk baca selanjutnya...

Gus Dur Terima Medal Of Valor daripada Yahudi



Gus Dur Benar-benar Agen Yahudi?


Ketika PKB (Parti Kebangkitan Bangsa) sedang berkrisis, tiba-tiba Gus Dur pergi keluar negara lebih tepatnya ke Amerika. Mengapa Gus Dur yang sedang bertegang leher dengan Muhaimain Iskandar bagi merebut jawatan dalam PKB, tiba-tiba melakukan lawatan (khabarnya lawatan rasmi) ke negara Uncle Sam? Seperti tentera dipanggil komandannya, maka akan bersegera menurut perintah.

Saya membaca beberapa berita yang menjelaskan alasan Gus Dur ke Amerika. Ternyata Simon Wiesenthal Center akan memberikan penghargaan Jewish Medal of Valor kepada tokoh ulama nasional Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Gus Dur yang mengumumkan sendiri bakal menerima penghargaan itu, sebagai salah satu hasil kerja prestasi dalam perjalanan hidupnya. Penghargaan itu pastilah sangat bererti kepada cucu pengasas Nahdlatul Ulama (NU) itu. Bahkan Gus Dur menyatakan 6 daripada 12 penerima penghargaan itu hasil kesimbungan daripada anugerah nobel perdamaian.

Tetapi, apakah itu Simon Wiesenthal Center? Siapa di belakangnya?

Simon Wiesenthal Center adalah sebuah yayasan antarabangsa yang didirikan untuk melindungi umat dan kepentingan Yahudi di seluruh dunia.

"Berjuang bersama Israel, membela keselamatan umat Yahudi di dunia, dan mengajarkan hikmah holocaust kepada generasi akan datang," demikian sekelumit profil Simon Wiesenthal Center dari laman webnya yang beralamat di http://www.wiesenthal.com.

Kewujudan yayasan yang bermarkas di Los Angeles itu sudah diakui oleh institusi-institusi antarabangsa yang lain. Wiesenthal mendakwa kekuatannya 400,000 kader di Amerika dan telah disahkan oleh PBB, UNESCO, dan Konsulat Eropah. (Penjelasan lanjut baca di Detik).

Apakah memang benar dakwaan selama ini bahawa Gus Dur adalah agen Yahudi? Dia sengaja direkrut sebagai agen Yahudi untuk mengacau bilau Indonesia yang dianggap sebagai sumber kekuatan kebangkitan Islam.

Sepak terjang Gus Dur selama ini selalu bertentangan dengan kelompok Islam lain dengan alasan pro-demokrasi atau hak asasi.

Dakwaan tersebut mulai terdedah dengan pemberian penghargaan daripada Simon Wiesenthal Center.


AIDC menterjemah artikel tulisan elfarid.multiply.com. Artikel asal klik di sini



Sila klik untuk baca selanjutnya...

Tokoh Sekutu Amerika : Anwar Ibrahim dan Mary Robinson



Tokoh Sekutu Amerika : Anwar Ibrahim dan Mary Robinson


Oleh : AIDC

Mary Robinson merupakan salah seorang kenalan Anwar Ibrahim yang kedua-dua mereka merupakan anak buah Al Gore bekas Naib Presiden Amerika Syarikat.

Sekitar tahun 1990-an, Anwar Ibrahim dan Mary Robinson merupakan penyokong kuat parti Demokrat Amerika pimpinan Presiden Bill Clinton dan Al Gore. Ketika itu, Anwar merupakan Menteri Kewangan (1990-1998) dan Timbalan Perdana Menteri Malaysia (1993-1998), manakala Mary Robinson pula Presiden Ireland (1990-1997).

Anwar Ibrahim dan Mary Robinson kader Amerika melalui Bank Dunia & PBB

Anwar Ibrahim dan Mary Robinson menjadi pelobi utama Presiden Bill Clinton dan Al Gore, ketika kedua-dua mereka menjawat jawatan penting di negara masing-masing. Dengan lobi kepada Amerika ini, mereka berharap kepimpinan mereka diiktiraf dan dibantu oleh kuasa dunia itu.

Presiden Amerika Syarikat ketika itu, Bill Clinton dan Naib Presiden Amerika, Al Gore meletakkan orang-orangnya di dua institusi penting iaitu di Bank Dunia dan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB). Selain dari tugas umum, kedua-dua institusi ini juga bertanggungjawab mencari kader-kader baru bagi membentuk rangkaian pemimpin dunia yang pro- Amerika Syarikat.

Di Bank Dunia, Clinton dan Al Gore letak James David Wolfensohn sebagai Presiden 1995-2005. Di Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu pula dicalonkan Kofi Annan menjadi Setiausaha Agung dari tahun 1997-2006. Di bawah PBB terdapat dua badan utama iaitu UNESCO (Pertubuhan Pendidikan, Sains dan Kebudayaan PBB) dan IMF (Tabung Kewangan Antarabangsa).

Pada tahun 1991, Anwar Ibrahim dilantik Presiden UNESCO. Pada tahun 1996, beliau telah dianugerahkan Presidential Medal oleh Universiti Georgetown Amerika dan kedoktoran kehormat oleh Ateneo De Manila University, Filipina, kerana sumbangannya dalam mempromosikan kefahaman antara agama.

Pada mesyuarat tahunan IMF-Bank Dunia tahun 1997, Anwar Ibrahim dipilih sebagai Pengerusi bagi Jawatankuasa Kumpulan Pembangunan IMF dan Bank Dunia (Chairman of the Development Committee of the IMF-World Bank). Pengarah Urusan IMF ketika itu adalah Michel Camdessus (1987-2000). Sila klik di sini

Nurul Izzah, Anwar dan Wan Azizah bersama Kofi Annan



Manakala Mary Robinson, selepas bersara dari Presiden Ireland, dicalonkan menjadi Pesuruhjaya Tinggi Hak Asasi Manusia di Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu berkuatkuasa pada 12 September 1997 hingga 2002.




Idea penubuhan PBB atau United Nations diilhamkam oleh Franklin D. Roosevelt, bekas Presiden Amerika (1933-45) sewaktu berlakunya Perang Dunia II untuk merujuk kepada Pihak Berikat yang terdiri daripada dari 26 negara. Nama ini digunakan secara rasmi buat pertama kali pada 1 Januari 1942 dalam "Pengisytiharan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu".

Pengisytiharan ini bertujuan untuk mengikat ahli-ahli Pihak Berikat kepada prinsip-prinsip Piagam Atlantik serta untuk menerima sumpah daripada ahli-ahlinya supaya tidak menuntut keamanan daripada Kuasa Paksi.

Ibu pejabat PBB terkini dibina New York City pada tahun 1949 yang dibina menggunakan bantuan dana Yahudi Amerika terkaya iaitu John D. Rockefeller, Jr. dengan derma sebanyak AS$8.5 juta. Selain itu terdapat juga pejabat PBB di Geneva, Switzerland. Klik di sini dan di sini

Bank Dunia didirikan pada 27 Disember 1945. Ibu pejabat Bank Dunia terletak di Washington, DC, Amerika Syarikat. Secara teknikal, struktur Bank Dunia terletak di bawah salah satu dari badan PBB. Namun Bank Dunia mempunyai modus operandinya sendiri.

Selain daripada peranannya sebagai badan peminjam kewangan kepada negara-negara anggota, Bank Dunia juga menjalankan operasi mengembangkan prinsip-prinsip neo-liberalisme, iaitu mewujudkan pasaran bebas dan mempraktikkan pertandingan ekonomi bebas, tanpa campur tangan kerajaan dalam sesebuah negara. Bank Dunia juga menyemai benih reformasi dan demokrasi untuk menghapuskan pemerintahan diktator.

Dua Presiden Bank Dunia, yang berturunan Yahudi iaitu James D. Wolfensohn (Jun 1995–Mei 2005) dan Paul Wolfowitz (Jun 2005–Mei 2007) adalah kawan rapat Anwar Ibrahim.


Kempen Bebaskan Anwar oleh Hak Asasi Manusia - PBB

Meskipun Amerika dan syarikat media kepunyaan Yahudi berusaha menjulang nama Anwar Ibrahim sebagai bakal PM Malaysia, dengan pelbagai anugerah; Presiden UNESCO (1991), Finance Minister of the Year - Euromoney magazine (1996), awarded the Presidential Medal by Georgetown University dan honorary doctorate by the Ateneo de Manila University, Philippines (1996), Chairman of the Development Committee of the IMF-World Bank (1997), Asian of the Year-Newsweek International (1998), namun cita-cita Anwar dan Amerika menguasai Malaysia terpadam apabila, beliau dipecat daripada keahlian UMNO pada 2 September 1998, sekaligus terlucutlah jawatannya sebagai Menteri Kewangan dan Timbalan Perdana Menteri Malaysia.

Selepas itu, Anwar telah dipenjarakan kerana didapati bersalah menggunakan kuasanya sebagai TPM merasuah pegawai polis untuk menutup skandalnya bersama Shamsidar Tahrin, isteri Azmin Ali. Akibat kesalahan itu Anwar telah dijatuhkan hukuman bersalah oleh pihak mahkamah dan terpaksa merengkok di dalam penjara.

Mary Robinson yang ketika itu menjadi Pesuruhjaya Hak Asasi Manusia, PBB telah menjalankan kempen-kempen untuk membebaskan sahabatnya (Anwar) supaya dibebaskan dari penjara.

Oleh kerana proses lobi tidak berjaya membebaskan Anwar, Mary Robinson dan Amerika (melalui NED -National Endowment for Democracy dan NDI - National Democracy Institute) telah memberi bantuan kewangan kepada beberapa NGO berkaitan dengan hak asasi dan kebebasan media supaya menjalankan operasi dari dalam negara.

Antara NGO yang ditaja adalah Amnesty International Malaysia (AIM), Suara Rakyat Malaysia (SUARAM), Hak Asasi Manusia (HAKAM), Forum-Asia, Caram-Asia, Centre for Independent Journalism (CIJ), Southeast Asian Press Alliance (SEAPA) Transperancy International Malaysia (TIM) dan lain-lain. Klik di sini dan di sini, di sini

Nama-nama aktivis NGO-NGO itu adalah Elizaberth Wong, Tian Chua, Cythia Gabriel, Chang Lih Kang, Amiruddin Saari dan lain-lain yang kesemuanya adalah aktivis PKR.

Selain menaungi kegiatan Hal Asasi di PBB, Mary Robinson juga merupakan Pengerusi IIED (the International Institute for Environment and Development) dan pengerusi the Council of Women World Leaders. Beliau juga salah seorang daripada orang Eropah yang menyertai pertubuhan underground yang kontroversial iaitu Trilateral Commission.


Foto atas, Mary Robinson memperjuangkan hak asasi manusia. Foto bawah, beliau berkempen hak kebebasan wanita di Kabul pada Mac 2002. Menurutnya hak asasi wanita Muslim di Kabul telah ditindas oleh Taliban. Beliau ke Kabul untuk berkempen besar-besaran kebebasan hak kewanitaan sempena dengan sambutan International Women Day. Klik di sini


Pada 1970 dia berkahwin dengan Nicholas Robinson (Kristian Protestan). Walaupun Mary Robinson berketurunan keluarga Church (Katolik) Ireland, namun perkahwinannya dengan lelaki Protestan menyebabkan satu perselisihan antara kedua ibu bapanya.

Beliau pernah menjadi Profesor di Reid Law, Trinity College. Robinson juga menjadi penasihat undang-undang untuk Kempen Perubahan Undang-undang Homoseksual bersama David Norris di Trinity College.

Sebuah lagi badan dinamakan "Realizing Rights" telah ditubuhkan olehnya pada Oktober 2002. Turut menyokong pertubuhan itu adalah Jimmy Carter, Desmond Tutu dan Musimbi Kanyoro. Juga turut disokong oleh The Aspen Institute, Columbia University dan the International Council on Human Rights Policy. Misinya untuk meletakkan hak asasi manusia dalam peringkat global. Klik di sini





Foto : Nurul Izzah menemui Mary Robinson untuk bantu kempen bebaskan Anwar. Mary Robinson bekas Presiden Ireland banyak membantu Anwar menjalankan kempen di peringkat antarabangsa terutamanya ketika beliau memegang jawatan Pesuruhjaya Hak Asasi Manusia, PBB.Pejabatnya ketika itu di Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights, Palais des Nations, 8-14 avenue de la Paix, CH 1211 Geneva 10, Switzerland. Robinson juga penasihat untuk kempen Homosexual Law Reform bersama David Norris di Kolej Triniti.




Nurul Izzah Anwar berkempen bebaskan Anwar dan melobi Amerika untuk campurtangan supaya bapanya dibenarkan mendapat rawatan di Jerman. Kempen Nurul Izzah dilakukan semasa menghadiri Konvensyen Kumpulan Parti Demokrat Amerika di Boston. Anwar dikatakan bakal lumpuh jika tidak dibedah, tetapi beliau tidak bersedia untuk dibedah di Malaysia.

Nurul telah bertolak di Amerika menemui para pegawai Rumah Putih ,Jabatan Negara dan anggota Kongres untuk tujuan berkenaan. Beliau berpendirian bapanya harus diberi kebebasan memilih doktor dan jenis rawatannya sendiri. Bekas Duta Amerika ke Malaysia ,John Malott yang diketahui umum sering menyuarakan isu Anwar berkata Nurul adalah jemputan termuda dikalangan 500 orang terdiri dari para duta asing dan tokoh politik ke konvensyen berkenaan.

Namun begitu bekas Timbalan Presiden KeADILan Dr Chandra Muzaffar tidak setuju dengan usaha yang dilakukan oleh anak sulung Datuk Seri Anwar Ibrahim, Nurul Izzah pergi ke Amerika Syarikat bertemu dengan para pegawai Amerika untuk melobi mendesak kerajaan membenarkan bekas Timbalan Perdana Menteri itu menjalani rawatan di luar negara. Beliau berpendapat sesiapapun tidak harus mengundang mana-mana kerajaan asing meminta bantuan, mendesak atau memujuk kerajaan Malaysia kerana ia bertentangan dengan maruah sebagai bangsa dan negara yang berdaulat.

“Amerika Syarikat mempunyai agenda mereka sendiri, oleh itu tindakan kita meminta bantuan mereka secara tidak langsung membantu mereka mengambil kesempatan ke atas kita, kerana mereka tidak menolong begitu sahaja tetapi ada udang di sebalik batu,”katanya.Klik di sini





Foto : Cythia Gabriel (Pengarah Eksekutif SUARAM - tajaan NED), Sivarasa Rasiah (Naib Presiden PKR), Nurul Izzah dan wakil Madeline Al Bright (NDI) di KLIA.Kumpulan-kumpulan hak manusia Malaysia secara berterusan berkempen untuk kebebasan Anwar.

NGO ini dengan kerjasama badan-badan Amerika (NDI & NED) telah mengatur perjalanan anak perempuan Anwar, Nurul Izzah, bertemu dengan Pesuruhjaya Tinggi Hak Asasi PBB di Geneva. Tiga pertubuhan hak asasi manusia Malaysia adalah SUARAM, Aliran dan HAKAM.



Proses re-branding semula imej Anwar selepas dibebaskan dari penjara


Selepas dirawat di Munich Jerman, Anwar terus ke Afrika Selatan, menemui kawan rapat Robinson iaitu Bishop Desmond Tutu , Ketua Biskop Kristian dan Nelson Mandela , bekas Presiden Afrika Selatan pada 1 Disember 2004. Pertemuan itu sempena syarahannya bertajuk Asian and Rennaisance di Cape Town University.

Paderi Desmond Tutu



Mary Robinson dan Desmond Tutu, merupakan aktivis Kristian yang aktif memperjuangkan hak asasi manusia dan demokrasi termasuk di dunia Islam. Sila Klik di sini


Dari kiri : Mary Robinson (kedudukan nombor 3); Kofi Annan, bekas Setiausaha Agung PBB; Nelson Mandela, bekas Presiden Afrika Selatan; Jimmy Carter,bekas Presiden Amerika dan Archbishop Desmond Tutu di Johannesburg.


Paderi Desmond Tutu yang juga Paderi Gereja England menjadi orang kulit hitam pertama dari Afrika Selatan yang dilantik Setiausaha Agung Majlis Gereja pada tahun 1979. Beliau lantang berceramah ke seluruh dunia, mendesak perubahan tanpa kekerasan serta sekatan ekonomi dikenakan ke atas Afrika Selatan. Akibatnya, kerajaan Afrika Selatan telah membatalkan pasportnya.

Pada tahun 1984, Paderi Desmond Tutu telah menerima Nobel Peace Prize. Tutu telah dipilih biskop Gereja England di Johannesburg. Pada 1986 beliau juga dipilih Archbishop Cape Town, satu jawatan taraf tertinggi dalam Ahli Mazhab Gereja England Church di Afrika Selatan.




Timbul persoalan untuk apa Anwar melawat Paderi Desmond Tutu, di Afrika Selatan ? Kenapa Anwar tidak meminta fakwa homoseksual daripada ulamak Islam ?

Selain paderi itu merupakan kawan rapat Robinson, beliau juga merupakan penyokong kuat Amerika dan beliau dianggap pejuang hak asasi yang lantang termasuk isu homoseksual.

Pendapat Paderi Desmond Tutu mengenai homoseksual; "penindasan ke atas golongan homoseksual adalah tidak adil dan dianggap sebagai dasar aparteid. Bagi saya homoseksual adalah satu perkara hak-hak manusia dan satu isu teologis yang dalam (diumumkan , 17 November 1998). Agenda ini perlu menjadi keutamaan yang kedua, selepas masalah kemiskinan di Dunia Ketiga". Klik di sini

Pendapat Desmond Tutu berkenaan dengan homoseksual disokong oleh Mary Robinson. Katanya kaum homo tidak boleh dianaktirikan kerana bercanggah dengan prinsip hak asasi manusia. Klik di sini


Jika dirujuk kepada laman web cuttingedge.org nama Anwar Ibrahim dan Desmond Tutu adalah nama yang disenaraikan anggota ahli Illmuniti. klik di sini

Illuminati berasal dari perkataan Latin yang bermaksud "pencerahan" atau "menyedarkan" pada sejarah Bavarian Illuminati, iaitu pembentukan satu kumpulan pencerahan pada Mei 1776. Pada zaman moden istilah ini digunakan bagi merujuk untuk satu organisasi sulit yang menjadi dalang dalam pengawalan kuasa (which acts as a shadowy power behind the throne).

Kumpulan ini dikatakan mengawal kuasa dunia menerusi kerajaan dan syarikat-syarikat di sesebuah negara. Dalam konteks ini Illuminati adalah satu penjelmaan semula atau kesinambungan Bavarian Illuminati dan pada hari ini ia selalu digunakan untuk merujuk kepada Kuasa Dunia Baru - New World Order(NWO).


Selepas berjumpa Desmond Tutu, Seterusnya Anwar telah berhijrah dan mendapat suaka politik di United Kingdom dengan menjadi pensyarah pelawat di St. Anthony’s College, Oxford (2004-2005). Posisi Anwar di UK diatur oleh salah seorang kawan baiknya, Chris Patten,(penyokong parti Demokrat Amerika) yang pernah bertugas di Hong Kong.

Di United Kingdom juga merupakan pengkalan utama parti Demokrat Amerika, setelah parti Demokrat Clinton-Al Gore tewas kepada parti Republikan Bush-Dick Cheney.

Aset dan dana parti Demokrat telah dipindahkan dari Amerika ke UK melalui dua badan pemikir yang berpengkalan di sana iaitu Generation Investment Management Group dan AccountAbility (Institute of Social and Ethical AccountAbility). Kedua-dua badan ini dimiliki oleh Al Gore.

Pada 23 Februari 2005, Al Gore telah mengadakan mesyuarat tertutup dengan Anwar Ibrahim dan Mary Robinson semasa majlis makan malam di London untuk membincangkan strategi politik akan datang.

Selain di UK, Al Gore juga badan pemikir di Timur Tengah yang dinamakan Datamatix yang berpengkalan di Dubai, UAE. Datamatix telah menjemput Anwar dan Robinson menjadi ahli panel ‘Forum Global Government & Business Leaders’ pada 24 September 2005 di Dubai. Klik di sini





Kesemua badan pemikir milik parti Demokrat Amerika ini (Generation Investment Management Group, AccountAbility dan Datamatix) digunakan sepenuhnya untuk mengilap semula imej Anwar Ibrahim sebagai tokoh popular di dunia. Selain itu, media kawalan Yahudi dan Amerika turut digunakan untuk memberi publisiti kepada Anwar supaya namanya kembali popular.


Majalah TIME misalnya menamakan Anwar Ibrahim sebagai 100 tokoh paling berpengaruh di dunia. Siapa di belakang majalah TIME dan kenapa Anwar dipilih, sila baca artikel ini. Begitu juga Majlah TIME menamakan Mary Robinson sebagai "Heroes dan Icons" di dunia. klik di sini

Anwar dan Mary pernah bersama menghadiri program ‘Reinventing Accountability for 21st Century’ pada 3 hingga 5 Oktober 2005 yang diadakan di London. Mereka telah berpeluang memberi ucapan sempena majlis ulang tahun Accountability yang ke-10 dengan membincangkan mengenai mempromosikan accountability untuk mencapai pembangunan.Klik di sini

Institute of Politics, Harvard University turut menamakan Anwar Ibrahim dan Robinson sebagai penceramah mereka di atas topik Islam dan Demokrasi serta hak asasi manusia. Mary berceramah tajuk ‘Making Human Right Matter : Eleanor Roosevelts Time Has Come’ pada 30 September 2002. Manakala Anwar diundang memberikan ceramahnya bertajuk ‘The Challenges of Islam and Democracy’ pada 11 Julai 2005.

Pada 27 Julai 2006, Anwar memberikan syarahan bertajuk ‘Islam & Democracy’ yang diadakan di University of Quennsland. Sebelum ini, Mary juga di antara yang diundang memberikan ucapan mengenai ‘Discussion on Human Rights In The Age Of Terror’ di universiti yang sama pada 15 Ogos 2005.

Selain itu, Anwar dan Mary turut menyokong rancangan damai Israel-Palestin anjuran Presiden Bush yang dinamakan Annapolis Summit. Pada 4 Oktober 2006, mesyuarat mengenai ‘Towards a Comprehensive Settlement of the Arab-Israel Conflict’ yang dihadiri oleh pemimpin-pemimpin dunia pro Amerika menyokong usaha damai itu. Klik di sini

Dalam mesyuarat yang dianjurkan oleh International Crisis Group (ICG) itu, Anwar Ibrahim dan Mary Robinson turut hadir bersama 135 pemimpin dunia yang mengiktiraf ISRAEL sebagai sebuah Negara SAH di samping pengiktirafan ke atas Palestin. Rancangan damai yang menguntungkan Israel ini ditentang hebat oleh rakyat Palestin sendiri terutamanya HAMAS dan negara jiran iaitu Iran serta Syria. Klik di sini

Al Gore, bekas Naib Presiden Amerika Syarikat sedang berkata sesuatu kepada tiga orang anak buahnya; Anwar Ibrahim, Ali Al Kamali (Pengarah Urusan Datamatix) dan Mary Robinson, bekas Perdana Menteri Ireland 1990-1997). Gambar di atas dirakam pada 18 Nov 2006 di Bustan Al-Arab Hotel Dubai, ketika Al Gore merasmikan majlis penyampaian Anugerah Middle East “3rd Banking Excellent Award” anjuran Datamatix, badan pemikir Amerika di Timur Tengah


Hubungan baik Anwar dan Mary Robinson dinukilkan oleh Anwar sendiri dalam blognya seperti berikut :


Saya kini dalam perjalanan pulang melalui Singapura setelah memberikan kenyataan akhbar di Vienna bersama Mary Robinson, bekas Presiden Ireland dan Pengerusi Suruhanjaya Hak Asasi Manusia PBB serta Penolong Setiausaha Agung PBB. Di sebelah petang saya bersama Vincent Fox bekas Presiden Mexico dan Presiden Transperancy International membicarakan mengenai kelunturan keyakinan rakyat terhadap pemerintah kerana merebaknya rasuah serta pentadbiran yang tidak telus.

Mengulas kenyataan Penolong Setiausaha Agung PBB bahawa lebih satu ratus negara telah menandatangai peristiharan membanteras rasuah, saya menyatakan agar pertubuhan dunia tidak mudah terpedaya dengan pemimpin kerajaan yang rasuah yang pandai berhelah di pentas dunia walhal rasuah merebak dahshat di negara mereka.

Saya menyarankan agar badan dunia menubuh badan pemantau yang berwibawa.

klik di sini




AIDC
2 Disember 2008



Artikel lain sebelum ini:

1. Tokoh Amerika : Anwar Ibrahim dan Al Gore







Sila klik untuk baca selanjutnya...